Posts Tagged ‘search engine’
Kembalinya Selera Makan Google
Google tidak menjadi sebesar ini semata-mata karena inovasinya yang mengejutkan jagat internet. Di lantai bursa, Google juga selalu mengambil langkah yang menarik perhatian. Sebagai perusahaan publik, Google punya kewajiban untuk terus meningkatkan nilai perusahaannya dengan terus berinovasi, baik secara internal maupun dengan membeli perusahaan lain. Langkah akuisisi inilah yang sering menjadi sorotan dari banyak kalangan. Google juga cukup piawai dalam memilih menu akuisisinya.
Read More →
Deal Microsoft-Yahoo: Apa Maunya?
Tampaknya hasrat terpendam untuk mulai menggerus tahta si raja mesin pencari mulai nampak nyata. Setelah menebar ancaman dengan Bing-nya, Microsoft bermanuver makin gesit. Pernah gagal meminang Yahoo, Microsoft akhirnya menjalin kerjasama dengan pesaing Google di dunia maya ini. Microsoft akan memfasilitasi mesin pencari Yahoo dan keduanya saling memperkuat lini iklan masing-masing.
Read More →
Pelajaran dari Kisah Sukses Google
Artikel ini merupakan kelanjutan dari artikel saya sebelumnya, Bagaimana Suatu Halaman Web Diakses?. Beberapa orang teman saya berkomentar mengenai artikel tersebut, “Ngapain begituan ditulis?”. Tentu saja, mereka baru membaca ringkasan (excerpt) dari artikel tersebut di Facebook
. Ringkasan tersebut hanya berisi daftar bagaimana suatu halaman web diakses oleh penggunanya (atau sepertinya istilah yang lebih tepat adalah: ditemukan oleh penggunanya), tanpa penjelasan pada tiap-tiap poin. Beberapa komentar yang masuk baik di Facebook maupun di blog ini menyatakan bahwa hasil pencarian Google adalah cara yang paling sering mereka gunakan.
Saya yakin, bukan hanya teman-teman saya saja yang demikian bergantung pada Google untuk menemukan informasi di Web, pengguna Internet di seluruh dunia pasti juga begitu. Demikian pula para pemilik situs web, mereka berusaha keras agar situs mereka berada pada urutan teratas hasil pencarian Google. Jika mereka kurang memiliki sumber daya untuk melakukan hal itu dan memiliki uang berlebih, mereka akan memasang iklan di Google. SEO kian populer dewasa ini, bahkan menjadi lahan bisnis.
Mengapa saya hanya menyebut Google, bukankah mesin pencari bukan hanya Google? Bagaimana dengan Yahoo!, Microsoft Live Search, AltaVista, dan mesin pencari lainnya? Hal ini tak lain karena begitu dominannya Google sebagai mesin pencari. Bahkan ada yang mengatakan bahwa 70% trafik dari situs-situs web berasal dari Google.Sebagaimana yang diungkapkan oleh Jeff Atwood dalam artikelnya: The Elephant in the Room: Google Monoculture bahwa jika misalnya, dengan suatu alasan tertentu Google memutuskan untuk menghilangkan situs kita dari hasil pencariannya, maka situs kita bisa dianggap tidak ada karena kecil kemungkinan orang lain akan menemukannya.
Mengenang Masa Before Google
Melihat begitu dominannya Google saat ini, mungkin akan menarik jika kita melihat masa sebelum Google dikenal luas. Masa itu biasa disebut dengan masa Before Google, dengan menganalogikan pada masa prasejarah. Berikut kisah yang saya dapatkan setelah membaca buku Kisah Sukses Google. Kebanyakan mesin pencari pada masa itu (AltaVista, Yahoo, Excite) menampilkan hasil pencarian dalam urutan yang tidak jelas, yang membuat pengguna harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengklik tiap halaman hasil pencarian untuk menemukan informasi yang mereka inginkan.
Larry Page, salah satu dari pendiri Google meneliti masalah ini pada tahun 1997 untuk tesis Ph.D.-nya. Dia dibantu oleh pendiri Google lainnya, Sergey Brin, dan beberapa orang dosen pembimbing di Stanford University (tempat di mana Page dan Brin menjadi mahasiswa Ph.D.). Makalah-makalah yang memuat hasil penelitian mereka masih dapat diunduh dari situs milik Stanford University. Page menemukan solusi pengurutan hasil pencarian mesin pencari, yaitu menggunakan algoritma PageRank. Mereka juga membuat mesin pencari Google versi awal dengan menggunakan sumber daya komputer dan jaringan milik kampus. Google waktu itu sudah dijalankan di atas sistem paralel, yang memungkinkan Google mampu mengindeks jutaan halaman web dan memberikan hasil pencarian dalam waktu yang singkat. Hasilnya, Google menjadi mesin pencari yang populer di Stanford.
Awalnya, Page dan Brin hanya ingin menjual lisensi teknologi pencarian Google pada perusahaan-perusahaan seperti AltaVista, Excite, dan Yahoo!, lalu mereka akan meneruskan studi mereka untuk meraih gelar Ph.D. Namun, AltaVista, Excite, Yahoo!, dan situs mesin pencari lain menolak untuk membeli lisensi mereka. Perusahaan-perusahaan tersebut masih menganggap bahwa fasilitas pencarian hanyalah sebagai pelengkap semata. Hal ini bisa dimaklumi mengingat pada waktu itu kebanyakan perusahaan web masih menganggap bahwa aplikasi yang akan menarik banyak pengguna (dan juga uang) adalah web portal. Web portal adalah web yang memiliki fasilitas serba ada, seperti Yahoo! saat ini. Web portal seperti itu akan berusaha menahan pengunjungnya untuk lebih lama di situs mereka, tempat mereka bisa berbelanja, memeriksa email, bermain game, melihat-lihat iklan, dan menghabiskan waktu dan uang lebih banyak. Hal ini tentu saja berlawanan dengan mesin pencari ala Google yang membuat penggunanya akan langsung meninggalkan Google begitu memperoleh hasil pencarian yang sesuai.
Salah satu pendiri Yahoo, David Filo, yang juga merupakan lulusan Stanford, memberi saran kepada Brin dan Page bahwa apabila mereka memang ingin mewujudkan potensi sistem pencari mereka yang unik dan yakin sekali tentang itu, yang terbaik bagi mereka adalah mengambil cuti dari program Ph.D. di Stanford dan langsung mendirikan perusahaan sendiri (Vise & Malseed, 2005). Dan hal itulah yang lalu dilakukan oleh Google Guys.
Pelajaran dari Google
Sekarang lihatlah Google, perusahaan tersebut sudah melampaui Yahoo!, apalagi Altavista dan Excite. Web portal yang dahulu digadang-gadang sebagai aplikasi yang akan menjadi homepage pengguna Internet dikalahkan oleh mesin pencari Google yang dulu diremehkan. Ada dua pelajaran yang bisa dipetik dari kisah Google ini:
-
Ide cemerlang kita boleh jadi dianggap remeh orang lain. Dan satu-satunya cara untuk membuktikannya adalah dengan mewujudkannya sendiri.
Memang tidak mudah, apalagi jika yang menolak adalah perusahaan sekelas Yahoo!. Tapi jika kita memang memiliki tekad baja dan yakin bahwa ide kita benar-benar berkualitas, maka wujudkanlah. Jangan selalu merasa bahwa ide kita memiliki kekurangan sehingga enggan untuk mengimplementasikannya. Lihatlah solusi-solusi yang sudah ada dan bandingkanlah apakah solusi kita mampu mengatasi masalah lebih baik? Apa kelemahan dari solusi kita? Adakah cara untuk mengatasi atau meminimalisir kelemahan tersebut? Proses komputasi algoritma PageRank memerlukan waktu yang tidak sedikit. Namun Page dan Brin mampu mengatasinya dengan menggunakan komputasi paralel.
-
Jika tidak bisa menjadi yang pertama, jadilah yang lebih baik dari yang sudah ada.
Kisah seperti ini sudah banyak. Google bukan mesin pencari pertama, namun mampu menjadi yang terbaik hingga saat ini. Facebook bukan situs jejaring sosial pertama. Kita jangan berkecil hati karena ide kita sudah diimplementasikan oleh orang lain. Belum tentu implementasi orang lain tersebut lebih baik daripada implementasi kita.
Penutup
Google memang luar biasa, namun tentu saja dominasi Google di Internet dikhawatirkan oleh banyak orang. Selain itu, menurut saya kompetisi di Google terlalu kejam untuk para blogger. Artikel kita harus bersaing dengan artikel-artikel lain dari seluruh dunia, atau lebih tepatnya dari seluruh halaman web yang diindeks oleh Google. Mungkinkah suatu saat ada yang mampu membuat sistem lain dengan kompetisi yang tidak terlalu kejam? Kita tunggu saja
.
Bagaimana Suatu Halaman Web Diakses?
Ada beberapa cara, kebanyakan di antaranya adalah:
-
Pengunjung mengetahui alamat halaman web tersebut (URI) dan membukanya melalui web browser
Alamat tersebut bisa saja didapatkan pengunjung dari temannya atau dia hapal alamatnya. Hanya situs web yang benar-benar populer yang akan dihapal oleh pengguna Internet. Siapa yang tidak hapal alamat situs Google, Yahoo, dan Facebook?
-
Melalui link yang ada pada halaman yang sedang dibuka.
Cofounder Google, Larry Page, membuat algoritma PageRank yang digunakan pada Google untuk menentukan peringkat suatu halaman web dalam hasil pencarian. Jika banyak halaman web yang merujuk pada suatu halaman web tertentu, terlebih lagi jika link tersebut dirujuk oleh situs web yang kredibel (biasanya situs dengan domain *.edu, *.gov, *.mil), maka halaman web yang dirujuk akan memiliki peringkat yang tinggi dan akan tampil dalam urutan tinggi pada hasil pencarian.
Ide mengenai PageRank berdasarkan pengamatan mengenai perilaku orang saat menjelajahi web, di mana mereka akan mengakses suatu situs yang telah mereka ketahui (atau hapal) alamatnya (biasanya situs yang benar-benar populer atau yang penting), lalu menelusuri link-link yang ada secara acak sesuai dengan minat masing-masing pengguna. Tentu saja suatu halaman web yang banyak dirujuk oleh halaman web yang lain terutama oleh situs web populer/penting maka peluang orang menemukan halaman web tersebut akan semakin besar. Melihat dua cara paling umum suatu halaman web diakses yang saya sebutkan, ide Larry Page mengenai algoritma PageRank benar-benar sederhana tapi cemerlang bukan?
- Melalui hasil pencarian mesin pencari
Jika kita menyebutkan mengenai mesin pencari maka hampir pasti yang dimaksud adalah Google
. Anda memasukkan satu atau lebih dari kunci pada mesin pencari, lalu mesin pencari akan mencari halaman web yang sesuai dengan kata kunci yang dimasukkan dari jutaan halaman web yang tersimpan dan terindeks oleh mesin pencari tersebut. Dengan begitu dominannya Google sebagai mesin pencari di dunia web maka jika situs Anda tidak terindeks olehnya atau dengan berbagai macam sebab situs web Anda tidak muncul pada urutan yang tinggi pada hasil pencarian, situs Anda bukan merupakan situs yang diingat oleh kebanyakan orang, dan tidak ada halaman web lain yang merujuk pada situs Anda maka hampir bisa dikatakan bahwa situs web Anda tak terjangkau di Internet.
- Melalui situs social bookmarking/tagging
Cara keempat ini mungkin kurang populer bagi kebanyakan pengguna Internet, terlebih lagi di Indonesia. Social bookmarking adalah aktivitas di mana pengguna menyimpan link yang ingin mereka ingat atau bagi dengan pengguna layanan social bookmarking yang lain. Selain disimpan, biasanya link tersebut juga akan dilabeli (tagging) dengan kata-kata kunci yang sesuai dengan isi halaman tersebut. Dengan dikumpulkannya link-link yang disimpan, dibagi, dan dilabeli oleh pengguna layanan social bookmarking dari seluruh dunia, maka pengguna dapat menemukan halaman-halaman web yang paling populer (ditinjau dari banyaknya pengguna yang mem-bookmark halaman tersebut) pada label kata kunci tertentu. Selain itu situs layanan social bookmarking juga dapat memberikan saran mengenai halaman web apa saja yang kira-kira menarik bagi pengguna berdasarkan halaman-halaman web yang telah dia bookmark dan pola halaman-halaman web yang di-bookmark oleh pengguna lain yang memiliki minat yang mirip.
Beriklan di Bing Lebih Efektif Daripada di Google?
Belum lama beredar, mesin pencari baru andalan Microsoft, Bing, telah menebar ancaman bagi pesaingnya. Tak kurang, bahkan simbahnya mesin pencari pun ikut diusik. Setidaknya inilah hasil penelitian dari User Centric. Perusahaan konsultan ini melakukan studi eye-tracking untuk membandingkan antara pencarian di Bing dan Google. Hasilnya 42% peserta studi melihat iklan di Bing setelah mencari, dibanding dengan 25% pada Google.
Read More →